Program Kerja

LAPORAN KINERJA 2009
DAN
RENCANA KERJA DAN ANGGARAN 2010
INKOPSYAH BMT – PNM BMT

A.     PENDAHULUAN

BMT merupakan Lembaga Keuangan Mikro Syariah yang sangat strategis dan layak untuk memfasilitasi perubahan perekonomian rumah tangga rakyat khususnya untuk ummat Islam menjadi lebih baik atau lebih sejahtera dibandingkan sebelumnya. Seiring dengan fungsinya, maka sejak diproklamirkannya Induk Koperasi Syariah (Inkopsyah) BMT pada tahun 1998 sebagai induk perkumpulan, maka industri BMT juga semakin membaik. Hal ini ditunjukkan dengan komitmen yang kuat dan serius dari para pengurus dan juga para anggota yang terlibat dalam membesarkan Inkopsyah BMT itu sendiri. Alhamdulillah pertumbuhan tersebut ditandai dengan bertambahnya jumlah anggota, yang kini sudah mencapai 225 anggota tetap yang tersebar dari Aceh sampai Papua, meski dalam prosentase dari total keseluruhan jumlah BMT di Indonesia masih kecil yang diperkirakan berjumlah 3000 BMT.

Mengingat pentingnya peranan BMT sebagai industri keuangan mikro syariah, maka Inkopsyah BMT sebagai pemayungnya mulai tahun 2009 kemarin sudah melakukan tahapan-tahapan menuju APEX BMT di Indonesia, dimulai dengan mengoptimalkan fungsi teknologi yang semakin canggih dan murah. Fungsi utama dari APEX BMT adalah bahwa Inkopsyah sebagai lembaga resmi dalam menangani sistem likuiditas para anggotanya (BMT) dan mempermudah segala urusan transaksi antar lembaga BMT maupun antar anggota BMT yang berlainan, serta membantu setiap anggota agar memiliki tingkat kepastian dan kenyamanan bagi setiap pengguna.

Terkait dengan kinerja, alhamdulillah wa syukurillah pada tahun 2009 Inkopsyah BMT diberikan kemudahan dalam memperbaiki kinerjanya baik dari segi pencapaian SHU maupun dalam menekan NPF. Dari sudut asset terjadi perubahan menjadi Rp 43 milyar dibandingkan tahun 2008 Rp 22 milyar dan untuk SHU nya naik dari Rp 455 juta menjadi Rp 1.004 juta. Sedangkan untuk kualitas pembiayaan yaitu NPF nya, juga dapat ditekan yang sebelumnya 6% menjadi 3,5% di tahun 2009 ini. Naiknya kinerja tersebut sekaligus menambah poin kredibilitas Inkopsyah BMT dimata masyarakat kususnyashahibulmaal/investor di tahun 2010 dan juga sekaligus memperkuat peran agen pembangunan bagi pemerintah. Insya Allah kedepannya kita masih tetap berharap bahwa dengan menguatkan peran jaringan dan optimalisasi fungsi (sebagai unsur ikhtiar) khusunya upaya  pencapaian Visi dan Misi, maka Inkopsyah BMT akan semakin baik dan bahkan dapat menjadi pusat perhatian.

B.     LAPORAN KINERJA 2009

Tahun 2009 ini, alhamdulillah iklim usaha perkoperasian khususnya yang menggunakan prinsip syariah memasuki masa kondusif, dimana sudah banyak Bank, Lembaga Keuangan Non Bank maupun lembaga keuangan atau lembaga donor lainnya sangat tertarik dengan industri BMT, yang nota bene mampu menjadi agen pembangunan di beberapa pelosok daerah.

1.     Keberadaan Lembaga dan Kantor

Untuk mendukung perluasan pembiayaan dan peningkatan kinerja serta sebagai bagian dari tingkat kepercayaan, maka Inkopsyah BMT melakukan pembelian gedung baru di Jl. Pondok Gede Raya No. 1. RT 06/01 Lubang Buaya, Jakarta Timur. Meski awal bangunan ini adalah ru       mah pribadi, maka dilakukan renovasi agar terlihat seperti bangunan kantor, dimulai dari disain ruangan, pembelian peralatan kantor dan peremajaan komputer, dan pembenahan lahan parkir.

Sejak pindah kantor, dari Pasar Minggu ke gedung baru di Pondok Gede ini, maka kami terus-menerus melakukan sosialisasi secara intensif keseluruh jaringan, terutama bagi para anggota, bahwa dengan adanya kantor tersebut akan meningkatan nilai tawar  Inkopsyah BMT di pihak luar terutama bagi para investor-kreditor maupun pejabat pemerintah bahwa Inkopsyah BMT mulai bangkit dan mampu untuk mandiri. Sosialisasi perdana untuk pihak luarnya, melaksanakan RAT tahun buku 2008 pada tgl 28 Februari 2009 di kantor baru, diantaranya dengan mengundang pejabat Kementrian Koperasi & UKM, Bank Syariah, LPDB, dan Lembaga Keuangan Non Bank. Alhamdulillah dalam acara RAT tersebut berjalan lancar dihadiri seikitar 150 anggota dari seluruh Indonesia mulai dari Aceh sampai dengan Sorong – Irian dan dihadiri pula dari pejabat Bank Syariah, PNM, Lembaga Non Bank, Kementrian Koperasi dan asosiasi lain sebagai pendukung gerakan BMT.

2.    Organisasi dan SDM

a.       SDM Pengelola

Prinsip utama dari berjalannya suatu organisasi adalah efektifnya susunan organisasi tersebut dan setiap SDM nya memberikan kontribusi manfaat yang besar. Untuk mendorong pertumbuhan yang lebih cepat, maka Inkopsyah BMT bersama PNM melakukan perubahan manajemen, serta pengurus menyelaraskan organisasi dengan target rencana kerja dan optimalisasi sumber daya yang ada. Dalam organisasi baru tersebut, peran manajemen ditingkatkan dengan memusatkan penggalangan dana (funding), penambahan anggota, serta peningkatan sistem kerja di setiap unit. Jika dilihat dari sudut jumlah SDMnya, sudah cukup ramping yakni 7 orang karyawan tetap, yakni 3 orang berada di unit Bisnis dan Jasa Manajemen, 3 orang di unit Operasional termasuk didalamnya mengurusi bagian Hukum, Appraisal, Bagian Umum, IT, Administrasi Pembiayaan dan SDM.

Pada tahun sebelumnya jumlah SDM melebihi dari jumlah sekarang, lalu karena ketidaksiplinan maka 2 orang mengundurkan diri, dan kemudian tahun 2009 dicarikan penggantinya hanya 1 orang dan ditempatkan khusus untuk keuangan.

Seiring dengan pertumbuhan usaha, maka SDM ditingkatkan kemampuan wawasan dan skillnya yakni melalui eksternal training dan internal training dalam bentuk knowledge sharing. Kemudian sebagai insan yang diharapkan selalu cenderung kepada ketaqwaan dan ketaatan, maka setiap hari dilakukan pembacaan doa bersama dan mendengarkan kultum dari setiap karyawan secara bergiliran.

Untuk peningkatan loyalitas, dan disesuaikan sumber dana yang ada maka setiap karyawan memiliki pakaian seragam 1 (satu) stel termasuk pengurus seluruhnya pakaian batik. Fasilitas lainnya adalah memberikan dana pendidikan karyawan dan keluarga setahun sekali kepada karyawan sebesar 0,5 kali dari gaji pokok. Sebagai informasi bahwa biaya personalia yang dikeluarkan selama satu tahun sekitar Rp 555 juta, artinya masih efisien dibandingkan dengan pendapatan yang diperoleh, yakni (gaji setahun) dibandingkan dengan pendapatan operasional utama Rp 3.435 juta (setahun) sebesar 16%.

b.       Kegiatan Pengurus

Sesuai dengan keputusan organisasi dan sekaligus untuk memonitoring serta pembinaan kegiatan usaha, maka Pengurus harian melalui Ketua Umum, Sekretaris Umum, dan Bendahara Umum secara rutin telah melaksanakan Rapat Bulanan 12 kali dalam setahun. Bahkan disela-sela dalam rapat-rapat tersebut menyempatkan diri untuk melakukan akad dengan LPDB dan Bank Syariah serta melakukan diskusi atau rapat dengan beberapa pihak eksternal, diantaranya LPDB, PNM, BSM, DKI Syariah, Dekopin, Bank Indonesia, UKM Center Universitas Indonesia, Dinas-dinas Koperasi Pemda, dsb.

Untuk kegiatan pengurus secara keseluruhan, maka telah dilaksanakan Rapat Kerja Kinerja Semeter I tahun 2009 di bulan Oktober 2009, dan alhamdulillah secara keseluruhan anggota pengurus 95% hadir. Dalam raker tadi juga membahas perubahan Anggaran Dasar (AD) Inkopsyah BMT, yang secara de Jure masih kurang sempurna, terutama untuk penggunaan kepada pihak luar.

c.        Legalitas dan Dokumentasi

Berdasarkan pengamatan dan tafsir dari para notaris, bahwa beberapa pasal dalam AD Inkopsyah BMT perlu ditinjau kembali, diantaranya tentang jumlah anggota pengurus dan wewenang para pengurus baik yang dimiliki maupun yang dialihkan kepada pengelola. Selain dari itu juga sangat diharapkan adanya ART sebagai bagian penjelasan dan tambahan lain dan termasuk sebagai dokumen yang tak terpisahkan dari AD.

Sebagai pelengkap dan pendukung kegiatan usaha di tahun-tahun selanjutnya, maka dokumen-dokumen terkait dengan legalitas sudah diperpanjang dan diganti disesuaikan dengan kantor yang baru. Begitupula alamat surat-menyurat dan surat-surat lainnya, seperti kendaraan dan inventaris lainnya.

d.       Kegiatan Publikasi

Sebagai bagian dari yang tak terpisahkan dalam pemasaran, maka hampir setiap 2 bulan sekali berita Inkopsyah BMT termuat dalam koran nasional Republika dan Bisnis Indonesia. Laporan publikasi ini sangat membantu proses sosialisasi kelembagaan dan industri BMT yang semakin membaik. Tak heran beberapa Bank Syariah maupun Lembaga Keuangan Syariah lainnya sudah secara langsung berhubungan untuk kerjasama baik untuk modal kerja pembiayaan atau bentuk program jasa manajemen seperti bantuan pendidikan dan jasa lainnya.

3.    Anggota

a.       Jumlah Anggota

Sesungguhnya untuk terjadinya penambahan anggota sangat mudah, namun mengingat masih terbatasnya sumber dana yang dimiliki serta kemudahan calon anggota dalam mengakses dana, maka pertambahan anggota masih dalam koridor seleksi yang cukup ketat. Pada umumnya penambahan anggota, disebabkan karena ingin dapat modal kerja atau pembiayaan secara mudah dari sudut prosedurnya. Disamping itu pula para anggota ingin mencari benefit lain yaitu ikut berorganisasi atau memiliki nilai jaringan dengan berbagai pihak. Salah satu hal yang diharapkan dan menjadi peran unggulan Inkopsyah BMT adalah masih adanya peluang optimalisasi penggunaan IT bagi setiap BMT melalui program APEX BMT.

 

Dari tabel diatas, bertambahnya jumlah anggota sebanyak 50 anggota yakni dari 175 menjadi 225 anggota, dan jika dibandingkan dengan 3 tahun sebelumnya ternyata tahun 2009 ini cukup bagus. Dampak secara umum penambahan anggota adalah bahwa kredibilitas Inkopsyah BMT menaik dan  dari sudut kewajiban para anggota juga berdampak, naik sangat signifikan jumlah, yakni dengan cara memotong langsung Simpanan Wajib selama jangka waktu pembiayaan. 

b.       Jaringan

Seiring dengan pertumbuhan anggota dan penguatan terhadap jaringan, maka Inkospyah BMT mencoba untuk memperkuat positioning fungsi dan peran Inkopsyah melalui kerjasama Puskopsyah atau BMT terpilih menjadi Koordinator. Tahun 2009 ini, yang sudah bekerjasama adalah Puskopsyah Bandung, Jogyakarta, Makasar dan Lampung.

Manfaat lain dengan berjaringan adalah membantu mempermudah penyaluran dana (pembiayaan) khususnya untuk calon anggota  atau anggota baru, diantaranya ada peran yang ditambah kepada puskopsyah atau BMT koordinator yakni sebagai bagian pemonitor perekmbangan anggotanya, dan ada juga pemberi rekomendasi dalam membantu percepatan proses pembiayaan. Juga, sekaligus membantu puskopsyah atau BMT koordinator sebagai alternatif pembina industri BMT di wilayah masing-masing.

4.   Keuangan

a.      Modal Anggota

Sumber Dana merupakan pintu awal dari pertumbuhan Inkopsyah BMT, karena itu kami menawarkan produk khusus kepada para anggota agar mau menambah Simpanan Pokoknya. Produk yang ditawarkan adalah Simpanan Pokok Khusus, dimana produk tersebut akan berpengaruh pada meningkatnya gearing ratio Inkopsyah BMT dimata kreditur. Alhamdulillah pada tahun 2009 terjadi penambahan Simpanan Pokok Khusus sebesar Rp 880 juta atau naik sebesar 46,6% menjadi Rp 2.762 juta dari tahun sebelumnya sebesar Rp 1.887 juta diantaranya :

 

Berikut para anggota 2009 yang telah ikut serta dalam membantu mengembangkan permodalan Inkopsyah BMT:

 

Jenis sumber dana lain yang juga merupakan fondasi bagi eksistensi Inkopsyah BMT adalah Simpanan Wajib. Strategi yang kami lakukan adalah dengan cara memotong langsung Simpanan Wajib kepada setiap anggota yang mendapatkan fasilitas pembiayaan selama jangka waktu masa pembiayaan. Hal ini bisa terlihat secara signifikan perubahannya yakni dari Rp 170 juta menjadi Rp 336 juta atau naik sebesar 97,6%.

b.       Dana Pinjaman

Berdasarkan rencana tahun 2009, dana segar yang harus diperoleh Inkopsyah BMT minimal adalah Rp 19,5 milyar ternyat sudah melampaui target 119% yaitu menjadi Rp 23,2 M meski dalam catatan RAT terdahulu mensyaratkan tumbuh sebesar 30% dari tahun sebelumnya Rp 15,6 milyar. Pencapaian hal tersebut dilakukan karena begitu besarnya perhatian dan intensitas pengurus dan pengelola dalam memonitor penggalangan dana melalui lembaga-lembaga pemerintah, yang nota bene sumber dana tersebut cost of fund nya cukup rendah jika dibandingkan dengan dana non pemerintah. Meskipun demikian tetap kami lakukan juga melalui lembaga Bank Syariah atau Non Bank lain.

 

Khusus yang berasal dari Bank Syariah, pada umumnya tingkat bagi hasil yang diminta Bank masih tinggi, sehingga penyaluran ke anggota juga sedikit berpengaruh. Karena itu tingkat selisih margin yang didapat Inkopsyah tidak begitu tinggi yakni sekitar 3%-4% selama 3 tahun. Padahal untuk membantu mendongkrak biaya operasional dibutuhkan sekitar 3% dari tingkat keuntungan setahun, terlebih jika dikaitkan dengan dana pinjaman dimana cost of fund nya minimal sebesar 2% (untuk biaya admin 1% dan sisanya untuk biaya notaris serta biaya lainnya). Inipun belum dihitung untuk dana cadangan likuiditas (reserve requirement) minimal 1%.

Mengingat begitu tingginya biaya yang dikeluarkan untuk mencari sumber dana pinjaman dari pihak non pemerintah, maka sangat diharapkan tahun kedepan lebih fokus kepada sumber dana murah atau sumber dana yang dapat dioptimalkan tinggi misalnya pembayaran pokoknya setiap 3 bulan sekali.

c.       Penyaluran Pembiayaan

Sumber Dana eksternal pertama di tahun 2009 yang diterima Inkopsyah BMT adalah dari LPDB sebesar Rp 10 milyar yang cair pada bulan April dan kemudian disusul dari Bank Syariah Mandiri Rp 3 milyar di bulan Mei dan Rp 6,050 milyar di bulan November, dan Bank DKI Syariah sebesar Rp 3,6 milyar di bulan November dan tak lupa dari kantor Kementrian Koperasi melalui produk SUK nya sebesar Rp 550 juta yang cair di bulan Juni.

Dari seluruh sumber dana pinjaman tersebut, alhamdulillah sudah tersalurkan semuanya yang tersebar kepada 108 BMT, sedangkan sumber dana yang berasal dari Equity atau berasal dari pembayaran margin yang diputarkan kembali yakni sebesar Rp 7,7 milyar atau 33% dari dana pinjaman, juga sudah kami salurkan untuk pembiayaan modal kerja, pembiayaan bantuan likuiditas. Dengan demikian total pembiayaan yang sudah disalurkan ke anggota adalah sebesar Rp 37,9 M atau terjadi kenaikan sebesar 194% dari tahun 2008 sebesar Rp 19,5 milyar (terlampaui Rp 18,4 milyar).

Produk lain, namun sangat terbatas dalam hal penggunaannya yakni penempatan dana pada anggota dan bank juga cukup besar yakni Rp 1,5 milyar. Penempatan dana khusus ke bank, merupakan bagian dari persyaratan pemilik dana seperti PNM dan Bank DKI Syariah dengan total sebesar Rp 530 juta. Sedangkan sisanya kami simpan di BPRS dan BMT Anggota.

 

Untuk tingkat kualitas pembiayaannya, pergerakannya masih kecil dibandingkan dengan tahun sebelumnya, meskipun strategi dan tata cara pembayaran sudah dilakukan dan disesuaikan dengan kemampuannya. Sesungguhnya para anggota yang bermasalah, 3 dari 10 BMT, ternyata BMT nya sudah tidak ada lagi alias bubar, namun mengingat nilai jaminannya masih dipegang di Inkopsyah BMT maka si pemilik jaminan masih mau mengangsur (kooperatif).

 

Mengingat masih adanya tingkat kooperatif dari si pemilik jaminan, maka kami berupaya untuk melakukan hapus buku dengan cara apabila BMT tersebut di atas membayar sekurang-kurangnya 50% dari tagihan pokok.

Selanjutnya, bagi para anggota yang masih melakukan keterlambatan kewajibannya sudah mulai berkurang karena didukung dengan tiap bulan dikirimkan surat reminder. Namun demikian kami tetap meminta bantuan pengurus untuk tetap memonitor kualitas pembiayaan karena kredibilitas NPF sudah menjadi parameter umum yakni terkait dengan unsurkredibilitas Inkopsyah BMT dimata Perbankan. Umpamanya jika NPF di atas 2,5% sd 5% tingkat kepercayaan hanya 90%, begitupula selanjutnya setiap penurunan 2,5% akan memberikan penurunan tingkat kredibilitas.

d.       Pertumbuhan Asset dan SHU

i. Asset – Aktiva

Dari setiap pos keuangan yang dialami Inkopsyah BMT selalu terus mengalami perubahan yang cukup signifikan dan memiliki arti tersendiri setiap tahunnya. Begitupula untuk tahun 2009 ini, dimana jumlah aktiva menaik 94% dari Rp 22 milyar menjadi Rp 43 milyar. Terjadinya kenaikan aktiva diiringi dengan penambahan jumlah pinjaman dana dari pihak ketiga dan ditambah dengan modal dari anggota Inkopsyah BMT sendiri.

Sedangkan untuk aktiva tetap perubahannya tidak begitu signifikan – karena terjadi penjualan mobil lama (Daihatsu Taruna - 2003) yang masa bukunya sudah habis diganti dengan mobil baru (Daihatsu Xenia 1000 CC) dan serta untuk mendukung mobilitas pengurus dan pengelola lalu ditambah dengan 1 mobil baru lagi (Daihatsu Xenia 1300 CC). Aktiva Tetap Inkopsyah adalah Gedung, 2 mobil, 1 motor, dan peralatan kantor/inventaris. 

ii. Pendapatan – SHU

Untuk pos pendapatan, alhamdulillah sudah melampaui target yang diharapkan dari RAT yang naik 30% nya, dengan realisasi menjadi 64% nya yakni dari Rp 2,6 milyar pada tahun 2008 dan menjadi Rp 4,3 milyar atau terjadi penambahan sebesar Rp 1,7 milyar di tahun sebelumnya.

Begitupula halnya untuk SHU (Laba Bersih), juga mengalami kenaikan dari Rp 620 juta (sebelum pajak) menjadi Rp 1.002 juta atau sekitar 62%. Terlampauinya target SHU ini didorong oleh pendapatan pembiayaan dari sumber dana baru baik dari pihak ketiga maupun dari anggota serta sistem monitoring tagihan.

Jika dikaitkan antara nilai SHU dengan pembiayaan, maka tahun 2009 ini SHU Rp 1.002 dibandingkan dengan Total Pembiayaan Rp 37.954 rasionya adalah 2,6% sedangkan tahun SHU 2008 Rp 620 juta dibandingkan dengan Total Pembiayaan Rp 18.217 maka rasionya 3,4%.

Terkait dengan SHU 2009 ini, kami sudah membayar pajak sebesar Rp 120 juta yang diasumsikan 70% dengan tahun lalu yakni Rp 166 juta dan sudah didasarkan perhitungan dari kantor pajak sendiri berupa surat tagihan. Sehingga apabila terjadi kekurangan pembayaran pajak maka dapat diamortisasi pada tahun 2010. Pembayaran pajak tiap bulan ini baru dilakukan sejak tahun buku 2009 ini, dimana pada tahun-tahun sebelumnya belum pernah dilakukan dan bahkan dibebankan menjadi tahun berikutnya.

Namun demikian untuk mengantisipasinya, kami telah mencadangkan kekurangan pajak badan dan karyawan untuk tahun buku 2009 sebesar Rp 100 juta. Seandainya kekurangan pajak badan dan karyawan dibebankan untuk tahun 2010 maka dengan demikian, cadangan pajak tersebut mengurangi beban alokasi pembayaran pajak bulanan. Dengan demikian SHU tahun 2009 ini sekitar 100% sudah bersih dari pajak.

 

 

Dari tabel diatas, maka sudut pandang yang dibaca oleh Perbankan terhadap Inkopsyah BMT adalah sbb:

·         CAR 14%, memiliki tingkat risiko yang berkategori rendah (level 2), dan jika lebih baik lagi yang diharapkan Bank adalah di atas 15% (level 1), meski tingkat risiko moderat (pertengahan – level 3) masih sekitar antara 8% - 12%.

·         FDR 105%, sedikit dikhawatirkan (moderat) karena Inkopsyah BMT menggunakan dana secara berlebihan yakni mengguna dana modal/equity untuk pembiayaan sebesar 15%. Terbaik bagi suatu bank adalah maksimal 90%. Sebaliknya dari tingkat perputaran usaha ternyata masih bagus yaitu 87,6%, bank mengkategorikan risiko rendah.

·         DER Inkopsyah BMT sampai 5.15x, artinya masih moderat, yang ideal 3x - 4x. Namun tingkat kepercayaan ini masih dinilai baik karena modal Inkopsyah BMT terus bertambah selama 2 tahun terakhir ini, apalagi jika ditambah pada tahun 2010 menjadi Rp 7 milyar.

·         BOPO 76.7% ternyata nilainya masih dibawah 80% artinya Inkopsyah BMT telah melakukan efisiensi dan efektifitas tenaga kerja yang bagus.  Kategori bagi bank adalah risiko rendah.

·         Untuk nilai ROA ternyata masih sangat tinggi risikonya bagi bank, mengingat tingkat moderatnya saja minimal 4% dan tingkat risiko yang ideal adalah minimal 5%. ROA Inkopsyah BMT masih kecil diakibatkan dana pinjaman dari Bank DKI dan BSM baru cair di bulan Desember sehingga optimalisasi sumber dana tidak terkontrol. Namun demikian ROA akan naik kembali jika sudah berada di bulan Februari 2010.

5.   IT

Akurasi dan percepatan dalam laporan dan sistem informasi manajem, maka Inkopsyah BMT sudah menggunakan IT dari PNM. Per agustus 2009, aplikasi tersebut sudah di install dan sudah dijalankan meski ada beberapa perbaikan di tengah jalan. Insya Allah kedepannya dengan IT ini, semua proses transaksi di Inkospyah BMT dapat diakomodir dan dijadikan sebagai landasan perkembangan ke depannya.

6.   Kegiatan Lain

i)          Pameran dan Festival

Selama tahun 2009 banyak kegiatan yang sudah diikuti Inkopsyah BMT terutama terkait dengan peran dan fungsinya bagi kepentingan masyarakat luas. Debut pertama kegiatan luar yang diikuti adalah Festival Ekonomi Syariah yang diselenggarakan oleh BI di Jakarta bulan Februari, Hari Koperasi di Samarinda bulan Juli, Expo Koperasi dan UKM di Jakarta bulan November.

ii)         Sebagai Nara Sumber dan Peserta Seminar atau Workshop

Sesuai dengan peran Visi dan Misi Inkopsyah BMT, maka beberapa pengurus dan pengelola juga menjadi nara sumber di berbagai kegiatan instansi pemerintah maupun swasta atau pada lembaga lain, misalnya Sosialisasi SUK di Jawa Tengah, Sosialisasi LPDB di Bandung, UKM Center UI Depok, IPOLTEKPOS Bandung dan Lampung.

Mengikuti kegiatan workshop APEX BMT dari PT. WIN perihal peran Inkopsyah BMT sebagai lembaga Apex BMT Nasional, di MICRA untuk TOT untuk Group Lending, dan dari Kementerian Koperasi untuk produk SUK serta penyempurnaan peraturan kementrian untuk program kerja 2010.

iii)        Sosial dan Ibadah

Pelaksanaan kegiatan ini Inkopsyah BMT bekerjasama dengan Bank Syariah Mandiri, Baitulmaal Madani PNM, dan para rekanan notaris untuk ikut membantu santunan dhuafa dan yatim piatu yang diberikan kepada warga di sekitar kantor Inkopsyah BMT. Acara ini dilaksanakan menjelang Ramadhan 1430 H. Kegiatan sosial lainnya adalah memotong hewan qurban 1 (satu) ekor sapi, dimana pemotongan hewan qurban tersebut diamanahkan untuk atas nama 7 karyawan yang terpilih.

C.     PENUTUP KINERJA 2009

Terkait dengan laporan kinerja diatas, maka sebagai pengelola, kami mengucapkan banyak terima kasih atas bimbingan dan kepercayaan pengurus kepada kami selama tahun 2009 ini, dimana amanah yang sudah kami terima sudah dilaksanakan dengan sepenuh hati dan profesional, semoga dapat dihargai. Namun tak lupa pula, dengan terbatasnya kemampuan kami, jika ada kesalahan-kesalahan yang kami lakukan baik sengaja atau tidak disengaja dapat dimaafkan, ibarat ”tak ada gading yang tak retak.”

 

ARISSON HENDRY                                                         M. FAUZI SJAFRIE

DIREKTUR                                                                   WK. DIREKTUR

 

RENCANA KERJA INKOPSYAH BMT 2010

 

I.                  PENDAHULUAN

Dengan mengacu pada analisa kinerja usaha pada tahun buku 2009 dan memperhatikan berbagai fakor baik inernal maupun eksternal yang akan terjadi, maka pada tahun 2010 Inkopsyah BMT dapat ditingkan fungsi dan perannya. Terkait dengan hal tersebut, maka fondasi pertama dan utama dalam menjaga eksistensi (keberadaan) adalah memiliki citra dan menjaga citra. Diantaranya adalah sbb:

1)     INKOPSYAH BMT adalah lembaga resmi koperasi sekunder yang dapat membantu menumbuhkembangkan anggota – tata kelola kerumahtanggaan anggota

2)     INKOPSYAH BMT adalah lembaga resmi yang mampu dapat  memberikan kontribusi sumber dana

3)     INKOPSYAH BMT adalah lembaga yang mampu menjembatani (peran aksesor) ke lembaga lain

4)     INKOPSYAH BMT adalah lembaga yang mampu meningkatkan fungsi utama dari  intermediasi

5)     INKOPSYAH BMT merupakan pusat perhatian anggota untuk dibesarkan, dimanfaatkan dengan seoptimal mungkin sehingga memiliki nilai tersendiri bagi anggotanya,

 

II.               INKOPSYAH BMT UNTUK 5 TAHUN KEDEPAN

Jika ditarik dari 5 tahun kebelakang dimulai 2005 – 2009, maka hasil kinerja Inkopsyah BMT dari tahun ke tahun terus naik dan umumnya telah menunjukkan pencapaian di atas RKA masing-masing tahun. Hal ini tentu saja merupakan gambaran kinerja yang menggembirakan untuk masa lima tahun terakhir perjalanan Inkopsyah BMT dan  kita sangat berharap menjadi landasan bagi rencana kerja lima tahun kedepan 2010-2014 yang sesuai dengan Misi dan Visi yang telah diamanahkan oleh para pendiri dan anggota. Namun demikian, agar supaya landasan tersebut menjadi lebih mantap, maka perlu dicermati dengan hati-hati, obyektif, jujur terhadap key success factor-nya, untuk melihat competiveness INKOPSYAH BMT (positioning) selama ini.

Dari beberapa tahun ke belakang harus diakui, bahwa kinerja INKOPSYAH BMT masih tergantung pada pendanaan dan produk jasa manajemen dari PNM. Sedangkan mulai tahun 2009 ini sumber dana mulai ada respon positif dari Bank Syariah (BSM dan DKI Syariah) dan anggap saja sebagai tahun percobaan untuk kemandirian dalam hal pencarian dana. 

Semoga tahun tahun 2010 ini, Inkopsyah BMT tetap mendapat perhatian serius dari Pemerintah sebagai lembaga yang membantu agen pembangunan pemerintah dan begitupula dari Bank Syariah lainnya kita harus memberikan peluang dan keterbukaan dalam menumbuhkembangkan industri BMT. Keterbukaan dan memberikan peluang kepada Bank Syariah merupakan hal yang lumrah dan dapat dijadikan keunikan tersendiri sehingga Bank Syariah yang bisa masuk ke industri perkoperasian yang note bene dianggapnya penuh dengan risiko ini diubah menjadi lebih percaya diri dan bahwa dana yang disalurkan memimliki tingkat keamanan yang terjamin dan menguntungkan. 

Sebagai lembaga sekunder pada level Koperasi Syariah, kiranya perlu penajaman kembali prioritas program kerja yang akan dilaksanakan, termasuk produk dan jasa yang akan ditawarkan. Meskipun demikian, bisa jadi ada produk atau jasa yang tidak selalu mendatangkan revenue dan jika ada revenue itupun hanya kecil. Karena itu dibutuhkan bentuk kerja sama yang bersifat aliansi dengan para pihak yang memiliki social fund dan revolving fund menjadi sangat stratejik.

 

III.           PROGRAM KERJA DAN ANGGARAN TAHUN BUKU 2010

Pelaksanaan Program kerja dan Anggaran 2010 mengacu kepada parameter sbb :

A.      Kondisi Keuangan

1.     Volume Usaha/Aktiva                : Rp 60 milyar

2.     Portofolio Pembiayaan/OS         : Rp 50 milyar

3.     Modal menjadi                         : Rp 7 milyar

4.     Laba – SHU sebelum pajak        : Rp 1.5 milyar

5.     NPF                                      : Max 5%

B.     Rasio Keuangan

1.    Permodalan – CAR                   : 15%

2.    Likuiditas                                : 90%

3.    Rentabilitas ROA                      : 2.5%

4.    BOPO                                         : 80%

C.     Asumsi

1.    Ekivalensi tingkat Bagi Hasil Penghimpunan Dana

a)    Pembiayaan             : max 14% eff pa

b)    Pinjaman                 : max 14% eff pa

c)     Simpanan                : max 13% eff pa

2.    Ekivalensi tingkat Bagi Hasil Penyaluran Dana

a)    Modal Kerja             : ditambah 4% dari pinjaman

b)    PLA                        : ditambah 7% dari simpanan

3.     Organisasi dan SDM

a)    Jumlah SDM - Karyawan       : 9 orang

b)    Jumlah Direksi                    : 2 orang

c)     Pelatihan                           : Rp 15 juta

d)    Perubahan AD dan ART       : Februari 2010

4.    Kegiatan Pengurus

a)    Rapat Rutin                       : 1 kali sebulan

b)    Rapat Semester                 : 1 kali setahun

c)     RAT Tahun Buku 2009         : Maret 2010

5.    Anggota

a)    Rekrutmen anggota dengan mempermudah persyaratan

b)    Penyetaraan pembayaran kewajiban/iuran anggota

c)     Mengaitkan dengan program sumber dana – misalnya diwajibkan menggunakan IT PNM bagi anggota baru

6.      Modal – Equity

a)      Penambahan modal melalui penyetaraan nilai simpanan pokok – dahulu Rp 2 juta dan Rp 3 juta, maka tahun 2010 simpanan pokok Rp 5 juta

b)      Menaikkan simpanan wajib dari Rp 50 ribu menjadi Rp 100 ribu bagi anggota baru dan anggota lama

c)       Penambahan modal penyertaan setiap anggota – yang memiliki asset Rp 5 milyar keatas minimal Rp 50 juta