Konsep Bagi Hasil Dalam Ekonomi Syariah

Perbedaan antara sistem ekonomi islam dengn sistem ekonomi lainnya adalah terletak pada penerapan bunga. Dalam ekonomi islam, bunga dinyatakan sebagai riba yang diharamkan oleh syariat islam. Sehingga dalam ekonomi yang berbasis syariah, bunga tidak diterapkan dan sebagai gantinya diterapkan sistem bagi hasil yang dalam syariat islam dihalalkan untuk dilakukan.

Dalam aplikasinya, mekanisme penghitungan bagi hasil dapat dilakukan dengan dua macam pendekatan, yaitu : 

- pendekatan profit sharing (bagi laba)

Penghitungan menurut pendekatan ini adalah hitungan bagi hasil yang berdasarkan pada laba dari pengelola dana, yaitu pendapatan usaha dikurangi dengan biaya usaha untuk memperoleh pendapatan tersebut.

- Pendekatan revenue sharing (bagi pendapatan).

Penghitungan menurut pendekatan ini adalah perhitungan laba didasarkan pada pendapatan yang diperoleh dari pengelola dana, yaitu pendapatan usaha sebelum dikurangi dengan biaya usaha untuk memperoleh pendapatan tersebut.

Konsep Bagi Hasil

Konsep bagi hasil ini sangat berbeda sekali dengan konsep bunga yang diterapkan oleh sistem ekonomi konvensional. Dalam ekonomi syariah, konsep bagi hasil dapat dijabarkan sebagai berikut.

1.         Pemilik dana menanamkan dananya melalui institusi keuangan yang bertindak sebagai pengelola dana.

2.         Pengelola mengelola dana-dana tersebut dalam sistem yang dikenal dengan sistem pool of fund (penghimpunan dana), selanjutnya pengelola akan menginvestasikan dana-dana tersebut kedalam proyek atau usaha-usaha yang layak dan menguntungkan serta memenuhi semua aspek syariah.

3.         Kedua belah pihak membuat kesepakatan (akad) yang berisi ruang lingkup kerjasama, jumlah nominal dana, nisbah, dan jangka waktu berlakunya kesepakatan tersebut.

Perhitungan Bagi Hasil Syariah

Metode penghitunga bagi hasil dalam ekonomi syariah secara umum dapat dilakukan dengan ketentuan sebagai berikut.

1.      Menghitung saldo rata-rata harian (Daily Average) sumber dana sesuai klasifikasi dana yang dimiliki.

DA

=

Total Dana

 
 

∑ n

 
 

Dimana,

DA  = saldo rata-rata harian

N    = waktu atau hari

2.         Menghitung saldo rata-rata tertimbang (Weight Average) sumber dana yang telah tersalurkan pada proyek atau usaha-usaha lainnya.

WA = ∑(total dana x jumlah hari periode dana)

3.         Menghitung distribusi pendapatan yang diterima dalam periode tertentu.

DP

=

WA

x

TP

TWA

 

Dimana,

WA             = saldo rata-rata tertimbang

TWA           = total saldo rata-rata tertimbang

TP               = total pendapatan periode tertentu

4.         Membandingkan antara jumlah sumber dana dengan total dana yang telah disalurkan.

5.         Mengalokasikan total pendapatan kepada masing-masing klasifikasi dana yang dimiliki sesuai dengan saldo rata-rata tertimbang

6.         Memperhatikan nisbah sesuai dengan kesepakatan yang tercantum dalam kesepakatan (akad).

7.         Mendistribusikan bagi hasil tersebut sesuai dengan nisbahnya kepada pemilik dana sesuai dengan klasifikasi dana yang ditanamkan.

Contoh:

Pada awal Januari 2007, H.Mahdi membuka tabungan atau simpanan  mudharabah pada lembaga keuangan syariah. Data transaksi yang terjadi selama bulan tersebut adalah sebagai berikut:

Tanggal

i) Keterangan

             (i)       Jumlah

06-Jan

setoran awal

3,000,000 

10-Jan

setoran

10,000,000 

25-Jan

penarikan

2,500,000 

29-Jan

penarikan

500,000

Perhitungan saldo rata-rata harian dana H.Mahdi selama bulan Januari adalah dengan menghitung saldo rata-rata tertimbang dibagi dengan jumlah hari dalan bulan bersangkutan.

Tabel Saldo Rata-Rata Harian

No

Tanggal

Hari

Saldo

Saldo Tertimbang

1

06 Jan - 10 Jan

5

3,000,000 

15,000,000 

2

11 Jan - 25 Jan

15

13,000,000 

195,000,000 

3

26 Jan - 29 Jan

4

10,500,000 

42,000,000 

4

30 Jan - 31 Jan

2

10,000,000 

20,000,000 

Total

272,000,000

 Saldo rata-rata harian H.Mahdi adalah 

Rp 272.000.000 : 31 = Rp 8.774.193,55

Setelah saldo rata-rata harian dihitung, selanjutnya dihitung jumlah distribusi pendapatannya. 

Misal, diketahui pendapatan lembaga keuangan syari’ah tersebut pada bulan Januari adalah sebesar Rp 250.000.000. 

Saldo rata-rata harian untuk masing-masing jenis klasifikasi dana yang dikelola oleh lembaga tersebut adalah sebagai berikut :

- simpanan mudharabah  =   50.000.000  (10%)

- investasi mudharabah 1 bln   = 125.000.000  (25%)

- investasi mudharabah 3 bln   = 110.000.000  (22%)

- investasi mudharabah 6 bln   =   75.000.000  (15%)

- investasi mudharabah 12 bln = 140.000.000  (28%)

 

                                                500.000.000

Dengan data-data diatas, maka dapat dihitung distribusi pendapatan sesuai klasifikasi dana yang dikelola, yaitu sebagai berikut :

Simpanan mudharabah

10%

250,000,000 

25,000,000 

investasi mudharabah 1 bulan

25%

250,000,000 

62,500,000 

investasi mudharabah 3 bulan

22%

250,000,000 

55,000,000 

investasi mudharabah 6 bulan

15%

250,000,000 

37,500,000 

investasi mudharabah 12 bulan

28%

250,000,000 

70,000,000 

Total

250,000,000 

Nisbah (Rasio Bagi Hasil)

Nisbah adalah merupakan rasio bagi hasil yang akan diterima oleh tiap-tiap pihak yang melakukan akad kerjasama usaha, yaitu pemilik dana (shahibul maal) dan pengelola dana (mudharib), dimana nisbah ini tertuang didalam akad yang telah disepakati dan ditanda tangani oleh kedua belah pihak.Dengan menggunakan data-data pada contoh diatas, akan diilustrasikan penghitungan nisbah.

Misalkan, diketahui nisbah yang telah disepakati antara H.Mahdi dengan pihak lembaga keuangan syari’ah sebesar 60:40, maka distribusi pendapatan untuk H.Mahdi adalah sebagai berikut.

Nisbah simpanan mudharabah untuk pemilik dana

25.000.000 x 60% = 15.000.000

Distribusi pendapatan untuk H.Mahdi atas simpanan mudharabahnya adalah

8.774.193,55 

x

15.000.000 

=

263.225,81

500.000.000 

 

(sumber : http://punyahari.blogspot.com)